Asing…. sebuah rasa yang terbit ketika tak mampu menarik garis kompromi antara pemahaman dan pengertian ketika perjalanan jeda di sebuah simpul, menumbuk pada realita bahwa cita asa karsa dan cinta adalah bagian dari perjuangan dan kenikmatan.
Menempuhi lekak-liku naikan dan turunan belantara rimba berjudul nafas, “asing” acap terbit, melepuhkan saraf sensorik dan motorik, komplikasinya melumpuhkan pencernaan logika hingga terkadang merasa di ujung masa dan tak mampu menatap berjuta berkat yang trus akan mengalir.
Asing juga menjadi makna terkarib, ketika serum adrenalin berarung jeram di nadi, saat sepenggal lakon bak sunset scenery, menghentikan detak jantung untuk merekam keindahan tak tertara. Ingin rasanya waktu berhenti dan tak lagi berlari menjelangkan pagi.
Asing… itu ada di kini, pada sebuah jeda yang tak terjemahkan oleh desau angin, oleh rintik hujan, oleh gemericik kebeningan sunyi dini hari.

