Saya benci berlari. Baik itu berlari sebenarnya, maupun “berlari”.Saya benci berlari untuk alasan apapun.
Tapi pria ini. Dia menusuk-nusuk hati saya lalu perlahan masuk sampai jauuuuuuuuuuhhhhhh ke dalam, ke palung hati. Menyatu.. menjadi sebagian dari diri saya.
Dan kini dia direbut. Direbut karena kesalahan saya. Hingga saya menyadari betapa sakit ketika harus mencabutnya dari diri saya. Rasanya bahkan saya akan mati perlahan tanpa dia. Bagaimana bisa saya hidup tanpa dia? Tapi dia telah menjauh begitu jauhnya dari saya. Haruskah saya berlari?
Oh sungguh saya benci berlari. Tapi saya tidak mau mati karena dia pergi. Baiklah! Baiklah saya akan berlari. Berlari secepat mungkin, sekuat mungkin sampai saya menjadi Sang Juara.
Harus! Saya harus jadi juara lari untuk bahagia dan menjadi orang yang tertawa paling akhir!

