Tunggu! Saya akan datang!

Kemudian Olenka* berkata, “Lihatlah Jane. Baik bidadari, setan, badan halus maupun badan wadak, tidak dapat menyangkal bahwa Jane dan Rochester saling mencintai. Pada suatu saat mereka terpisah oleh jarak puluhan mil. Karena intimidasi dan berbagai macam kesengsaraan, hampir saja Jane menyerahkan diri untuk diperistri oleh Pendeta Rivers. Tepat pada saat Jane akan berkata,”Ya, John Rivers, saya bersedia menyerahkan hidup dan matiku ke dalam tanganmu sebagai suamiku,” John Rochester, yang pada waktu itu buta, merana, dan kesepian, melihat Jane berkelebat. Rochester berusaha meneriakkan nama Jane, tapi suaranya tersendat di tenggorokannya. Suara Rochester tidak pernah terucapkan. Akan tetapi geletar dalam hati Rochester melompat dari bukit ke bukit, menerobos kegelapan malam, dan menghantam pepohonan di hutan-hutan. Alam cukup peka untuk menangkap geletar seseorang yang dirundung cinta, dan tidak bisu untuk kemudian menyampaikan ke telinga Jane. Jane mendengar jerit Rochester. Hanya Jane sendiri yang mendengarnya, tidak juga Pendeta John Rivers. Dia meronta, melepaskan kepalanya dari cengkeraman tangan Pendeta John Rivers, kemudian lari terbirit-birit ke belantara malam. Dia berteriak, “Tunggu! Saya akan datang! Dan Rochester melihat Jane berkelebat lagi.”**

* Dialog antara Olenka dan Fanton Drummond. Petikan ini diambil dari Olenka, karya Budi Darma (1990), hal 96-97.

** Penggalan kalimat ini diambil Budi Darma dari Jane Eyre, karya Charlotte Bronte (1847).